Senin, 01 Juni 2009

Evaluasi Dosen

EVALUASI DOSEN

Tanggal : …………………………………….2009

Berikan evaluasi dan saran secara obyektif untuk meningkatkan kualitas belajar mengajar, dengan memberi tanda silang (x) pada jawaban yang saudara pilih

NAMA DOSEN : ………………………………………………….

MATAKULIAH : ………………………………………………….

NO

Materi Penilaian

Tidak Baik

Kurang

Cukup

Baik

Sangat Baik

1.

Kemampuan menjelaskan materi

2.

Kemampuan menjawab materi

3.

Keterbukaan terhadap pendapat mahasiswa ketika diskusi

4.

Kemampuan membuat matakuliah yang diajarkan menarik

5.

Sistematika materi kuliah

6.

Kesesuaian materi dengan silabus

7.

Hand Out yang dipergunakan

8.

Ketepatan waktu memulai kuliah

9.

Ketepatan waktu mengakhiri kuliah

10.

Kerapian / penampilan

Saran-saran untuk dosen yang bersangkutan :

………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………

Rabu, 27 Mei 2009

B I O G R A F I

By. Syahruddin. S

KELUARGA

Keluargaku sebagian besar adalah keluarga Tani. Tidak banyak yang terjun kedunia pemerintahan dan maupun swasta. Aku sendiri mempunyai 9 saudara (keluarga besar), satu orang meninggal. 4 orang diantara ada gembar. Termasuk gembaranku meninggal saat berumur 2 bulan lebih. Aku sendiri hidup, karena ada mitos, bahwa karena gembaranku seorang perempuan, maka aku dititipkan ketetangga, dengan maksud bisa panjang umur.

Bapak termasuk tipe pekerja keras. Berkat kerja keras, kami semua Alhamdulillah dapat hidup, mengenyam pendidikan. Sekarang banyak tinggal dirumah karena dimakan senja. Dalam mendidikan anak, bapak termasuk tipe orang yang sangat keras terhadap anak-anak. Ibuku juga termasuk pekerja. Dimana dalam mendidik anak juga hampir sama dengan bapak. Hanya setelah kami dewasa semua, walaupun ada yang terakhir, sikap keras tersebut beransur-ansur berkurang.

Dari usaha pertanian, perkebunan dan jual ikan, ayah, ibu, dan anak bisa menghidupi kebutuhan keluarga (untuk biaya makanan dan pakaian, baju, dll) . Tidak ada istilah kelaparan atau kekurangan. Alhamdulillah, makmur. Mau beli pakaian atau perlengkapan rumah, biasanya bapak atau ibu tukar dengan hasil pertanian tadi.

KELAHIRAN

Aku lahir percampuran antara ras suku Kutai, dan suku Banjar, disebuah Kota yang unik, mungil, sejuk, damai dan historis. Dilahirkan di kota Raja Tenggarong Kutai Kartanegara, 30 September 1972. Kata orang tuaku,”aku lahir menjelang adzan magrib di Masjid Jami’ Hasanuddin Tenggarong (Masjid Tertua di Tenggarong). Lahirnya di Rumah Sakit Umum Tenggarong (sekarang lokasi rumah sakit tersebut sudah ditempat Masjid Agung Tengggarong). Rumah sakit ini waktu itu bertetangga dengan asrama TNI dan Lembaga Kemasyarakatan, dibagian belakangnya ada kuburan Muslimin. Sedangkan didepannya merupakan Lapangan sepak bola, sekarang menjadi Monumen Pancasila dan taman. Kemudian menjelang berumur 2 tahun aku diajak orang tua pindah ke hulu Mahakam. Masuk ke daerah Sungai Belayan. Menetap di sebuah dusun terpencil. yaitu Dusun atau kampung Loa Lempong desa Muai Kecamatan Kembang Janggut Kabupaten Kutai Kartanegara Kalimantan Timur

MASA ANAK-ANAK DAN REMAJA

Perjalanan hidupku penuh liku-liku, dimana sebagian besar masa kecilku dihabiskan didusun yang terpencil jauh dari hiruk pikuknya suasana perkotaan. Sebagai anak petani, dimana pagi - sore kerjanya hanya membantu orang tua yaitu berladang (menanam padi), berkebun (pisang, jagung, lawo, mentimun, kacang panjang, kacang tanah, dll) dan mencari ikan disungai.

Masalah mencari ikan, wah ini cerita menarik. Aku biasanya kalau mencari ikan didaratan (sungai-sungai kecil) itu melalui hutan-hutan alam yang masih sejuk, damai. Yang terdengar hanyalah binatang-binatang hutan. Pagi berangkat siang bisanya baru pulang.

Dalam mencari ikan tersebut, ibu bawa makan dan minuman secukupnya. Seperti berkemping ditengah hutan/pegunungan. Kami membawa persediaan peralatan selama mencari ikan tersebut. Kami biasa dapat ikan berkilo-kilo, dimana ikannya bermacam-macam bentuknya.

Disungai besar (Namanya Sungai Belayan), aku bersama bapak. Kami biasanya pasang pukat (Kutai : rengge), menjaring (Kutai : menjala), memancing pakai glondongan kayu atau dirjen (Bahasa Kutai : mantau). Besar-besar ikan yang kami dapat, seperti ikan patin, baung, ikan gergaji, dan lain-lain.

Didepan rumah kami, terhampar pasir pantai yang panjangnya bisa sampai dua kilometer. Kalau airnya surut, kami anak-anak kampong bermain, mandian. Adanya permainan anak-anak kampong waktu itu, yaitu sembunyi-sembunyian (Bahasa Kutai: bepukungan). Permainan ini, diikuti 5-10 orang anak, bisa berkelompok atau perorangan.

Caranya jika ada yang kalah, maka ia harus memejamkan mata dulu, lalu yang lain bersembunyi dimana saja. Nah setelah hitungan ketiga, yang kalah (tukang mencari) membuka matanya (bahasa Kutai: menjelakan matanya). Mulailah ia mencari, siapa yang ditemukan terdahulu, maka dia menggantikan yang kalah tadi, dan begitu seterusnya.

Dipasir kami anak laki-laki, biasa main bola plastik. Diseberang sungai yang besar tersebut (jarak dari tepi sungai ketepi sungai semberangnya bisa 500 meter), ada bebatuan. Diantara bebatuan tersebut, kami mencari kerang (Bahasa Kutai : Tembek).

Tidak jauh dari dusun kami, ada perusahaan kayu yang masih eksis. Disana juga ramai penduduknya. Kalau tempat kami bisa hanya 5-8 rumah saja. Itulah disebut dusun. Sangat terpencil sekali. Sehingga kalau malam, jam 7an sudah sepi, tidak ada yang mau keluar rumah,kecuali ada keperluan sangat penting atau ada cara tetangga.

Diperusahaan tersebut, terdapat mobil-mobil besar yang tugas rutinnya mengangkut kayu glondongan dari hutan dibawa kepantai, lalu dijeburkan kesungai, dibuat rakit, kemudian ditarik ke Samarinda. Kebanyak pekerjanya dari Jawa dan Bugis.

Dihari-hari tertentu, aku selalu ikut dimana bapak berjalan. Apalagi pada bulan Ramadhan, kebetulan bapak sering menjadi iman masjid, maka aku kecil selalu ikut serta. Kadang-kadang orang sedang sholat Terawih, aku tertidur dibelakang masjid/langgar. Setelah selesai terawih, bapak biasanya kunjung sana-kunjung sini. Tempat-tempat tetangga. Jauh malam baru pulang.

Semakin senangnya ikut bapak, pernah bapak tidak mau membawa aku. Aku diminta tinggal dirumah saja. Aku menangis, bapak tetap saja jalan. Waktu itu bapak mau ke Desa Muai. Jaraknya dari Dusun ku kalau pakai perahu dayung, pagi berangkat, siang baru sampai.

Nah aku berjalan kaki menyusuri pantai, tebing, menyusul. Akhirnya bapak membawa aku ikut kesana. Waktu itu umurku masih 4-5 tahun.

MASA PENDIDIKAN

Aku termasuk terlambat mengenyam pendidikan. Dan aku bukan tipe pekerja keras yang mampu menerima ilmu Pengetahuan secara cepat. Karena ditempat aku tinggal waktu itu memang tidak ada sekolahan. Aku masuk sekolah ketika orang tua pindah ke desa Muai. Itu terjadi pada tahun 1980an. Masuk SD, dan kebetulan SD tersebut tepat berada disamping rumah kami yang mungil, kecil dan tidak ada halaman/pekarangan. Dibelakang rumah ada sungai kecil sekali. Nah untuk mencari ikan, kami tinggal memasang pancing, dan biasa pasti dapat ikan sejenis ikan haruan, ikan lelel (Kutai : Keli), Ikan sepat (agak pipih, kecil seperti telapak tangan ukurannya, tapi enak dan manis). Diseberang sungai biasanya aku memasang pukat (Kutai : Jerat) untuk menangkap burung. Ini hanya masalah keberuntungan saja dapatnya, burung yang aku dapat biasa burung tengkeruak, punai, merpati, belibis.

Disekolah ini aku hanya sampai kelas 2 (belum selesai). Aku masuk bersama-sama dengan adik nomor satu. Sebabnya pada tahun 1982, keluarga dari Tenggarong, mengajak kembali. Akhirnya dengan menumpang sebuah rakit perusahaan, kami migrasi dari hulu sungai Mahakam ke kota Tenggarong dengan membawa semua barang dan kebutuhan kekuarga. Pindah total. Lama perjalanan hampir satu minggu. Sekarang jika melalui darat cukup setengah hari sudah sampai. Yaitu kita harus melalui Kecamatan Kota Bangun dulu, kemudian naik motor perahu (Kutai:Ces), terus melalui desa Semayang daerah Danau Semayang, Kenohan, Genting Tanah, Hambau, Kembang Janggut, dan baru ke Desa Muai. Jika naik perahu motor air (Kapal air) bisa ditempuh satu dua hari, dua malam. Kapal cepat bisa satu hari-satu malam.

Di Tenggarong aku masuk sekolah SD 030 dekat Stadion (sekarang SD 18). Dulunya sekolah ini masih daerah terpencil. Kami jika mau olahraga, langsung masuk stadion. Main bola, lari, dan sebagainya. Halaman sekolah masih ditumbuhi rumput-rumput yang tebal, sehingga setiap hari Sabtu satu bulan sekali, kami bergotong royong membersihkan halaman tersebut. Sekarang sekolah ini sudah direnovasi. Disekolah ini aku dan adiku, sampai kelas 5 kemudian pindah ke SDN 049 dekat SMP Negeri 3.

SDN 049, dulunya juga sama dengan SD 030. Halamannya masih ditumbuhi rumput-rumut yang tebal. Tapi sekarang tahun 2008, sudah menjadi SD yang megah dengan bangunan yang megah.

Setelah lulus, aku masuk SMP Negeri 1 Tenggarong, dilanjutkan SMA Negeri 1 Tenggarong pada tahun 1993 lulus. Istirahat satu tahun, pada tahun 1994 masuk ke Universitas Kutai Kartanegara. Setelah lulus S-1, aku melanjutkan ke S-2 ilmu-ilmu ekonomi Universitas Mulawarman Samarinda, bidang konsentrasi Korporasi. Sekarang masuk di Semester 4 dan masih tahap pengajuan proposal tesis.

PANDANGAN TERHADAP KEHIDUPAN SOSIAL

Hidup bertetangga, bermasyarakat, bernegara dan berbangsa tentunya sangat diperlukan. Seorang manusia harus bisa berintegrasi dan beradaptasi. Nabi SAW menjelaskan,”Tetangga yang jahat kepada tetangganya, neraka tempatnya”.

PANDANGAN TERHADAP KEADILAN

Soal keadilan, juga ada batasannya. Dan tidak semua keadilan itu dapat diterapkan dengan baik. Tapi keadilan memang dianjurkan oleh kita semua. Agama mana saja memerintahkan keadilan.

Kalau ada yang mengatakan, yang bisa adil itu hanya Nabi, itu anggapan yang salah. Karena untuk apa Tuhan Allah SWT menciptakan keadilan. Memerintakan keadilan terhadap seluruh makhluk dialam semesta ini.

PANDANGAN TERHADAP DEMOKRASI

Dalam kehidupan berdemokrasi harus ada batasan dan aturan yang semestinya kita ikuti. Seperti HAM, orang ribut menuntut HAM (Hak Asasi Manusia). Padahal HAM itu sendiri sangat terbatas antara ruang dan waktu. Seorang wanita menuntut keadilan, bahwa wanita berhak seperti kaum laki-laki. Ini merupakan tanda-tanda keruntuhan pemahaman dan penghayatan terhadap hakikat ajaran agama yang sebenarnya.

Kalau HAM itu harus dituruti, maka kita akan menuntut ketika Tuhan Allah SWT mengambil nyawa keluarga kita, kita akan menuntut Tuhan yang mengambil ruh keluarga, saudara kita. Kalau HAM dituruti, maka wanita naik ring tinju, wanita bermain bola. Padahal ini menurut agama ini, ini sudah mengumbar aurat siwanita, yang jelas-jelas diharamkan.

PANDANGAN TERHADAP RELIGI, DAN AGAMA ISLAM

Islam Agama yang haq, agama yang sempurna. Ummat Islam harus bersyukur atas kurnia yang terbesar tersebut. Dengan kemajuan jaman yang kian seperti budaya dunia barat masuk dibilik rumah kita, maka peranan agama (Agama Samawi) sangatlah penting. Hanya saja tidak semua agama itu harus kita yakini. Sebagai ummat Islam, maka agama Islamlah yang terbaik bagi ummatnya, begitu pula bagi yang lainya, mereka menganggap agama merekalah yang terbaik.

KETERLIBATAN DALAM ORGANISASI KEPEMUDAAN DAN KEMASYARAKATAN

Setelah tinggal di Kota Tenggarong aku mulai bergabung dengan kawan-kawan baik dari teman sekolah, sekampung maupun teman-teman yang bergelut di agamaan. Dari pergaulan tersebut, aku masuk beberapa organisasi. Mulailah aku masuk menjadi anggota penghibur (meramaikan) seperti tukang pengetik amplok, pengantar surat undangan, dan lain-lain. Tahun 1994 organisasi yang pertama aku ikuti adalah Ikatan Putra Nahdlatul ‘Ulama Tk.II Kutai. Waktu itu basis kadernya berada di Pesantren Ribathul Khair Timbau.

Tokoh-tokoh IPNU waktu itu seperti Ir. Zunaidi, Zaki, Asrin Surianto, Masrani, Misran, Norjali, Sabran, Mulyadi, Mahmudan, dll. Waktu itu aku hanyalah anggota biasa.

Kemudian ormas keagamaan Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia Kecamatan Tenggarong, IPQAH Tk. II Kutai, Kegiatan Majelis Ulama Indonesia Tk. II Kutai, Dewan Dakwah Indonesia Tk. II KUtai dibawah KH. Sabri Ismail.

Organisasi Kemahasiswaan Gema Kosgoro, HMI, PMII. Kemudian masuk ranah organisasi KNPI, waktu itu masih jamannya Bung Heri Siswanto. Kemudian Jaman Dardiansyah, Mursito. Setelah itu aku tidak aktif lagi di KNPI.

Tahun 2007, aku masuk kembali KNPI dibawah Rita Widasari. Pada tahun 2002 aku diminta Saudara Sabran menjadi Sekretaris Umum Ikatan Remaja Masjid Agung Tenggarong, Tahun yang sama menjadi Sekretaris Umum Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Kab. Kutai Kartanegara. Posisi sekretaris ini aku pegang sampai dua periode. Pada tahun 2007, aku secara aklamasi terpilih menjadi Ketua Umum BKPRMI yang diikuti 15 Kecamatan, mines Kecamatan Tabang, Anggana dan Kota Bangun.

PEKERJAAN

Proses hidup terus berjalan. Bagiku hidup harus diperjuangan, cita-cita, impian harus diusahakan. Do’a merupakan senjata mujarob terhadap proses tersebut.

Sejak kecil aku terbiasa kerja keras. Jika tidak menemani bapak ibu keladang, atau kekebun, aku mengasuh adik-adik. Ketika masih sekolah, aku biasa mencari kayu api, daun pisang, Mengumpulkan Lombok, sayur untuk dijual kepasar. Jualan kue dari rumah kerumah.

Setelah lulus SMA aku ikut kakak sepupu, mendistribusikan beras PNS se-Kutai Kartanegara. Kemudian kerja swomill (penggergajian kayu bahan mentah), dengan upah Rp. 50.000- Rp. 150.000 sebulan.

Dimasa-masa menyelesaikan perkuliahan aku masuk menjadi manusia hutan yaitu bekerja pada Perusahaan Kelapa Sawit di Perdana Estate Sentekan Kecamatan Kembang Janggut Kutai Kartanegara. Sebelum menjadi karyawan tetap, aku magang bagian pengukuran lahan. Waktu itu lahannya untuk perkebunan belum digarap 50%. Masih hutan dan belantara yang lebat. Tiga bulan aku memegang alat namanya alat ukur tenol. Seperti yang digunakan mahasiswa Fakultas pertambangan untuk mengukur jalan.

Kemudian oleh pihak perusahaan, aku ditunjuk dalam pengawasan kontraktor yang membuka lahan, hutan, membuat jalan, jembatan, membersihkan aliran sungai dan membuat aliran sungai yang baru disekitar wilayah perusahaan. Turun kerja jam 4 subuh, pulang jam 10 malam, tiap hari aku lakoni. Sebagian karyawan sudah pulang sesuai dengan jam kerja sebuah perusahaan, aku bersama kontraktor lainnya tetap ditengah-tengah belantara hutan maupun hutan yang sudah ditebangi. Cukup lama pekerjaan ini aku lakoni.

MUSIK DAN FILM

Musik diperbutuhkan oleh kita semua. Karena dalam bekerja, pasti ada masa-masa kejenuhan. Dalam masa tersebutlah diperlukan kelenturan otak, jiwa dan hati.

Aku menyenangi musik-musik berbau relegi, klasik, country. Untuk sejenis music Indonesia, hampir semua musik aku senang. Mulai Pop, dangdut, Keroncong, instrument dan lain-lain. Kecuali serirosa, lagi ini terlalu lama bagiku. Tapi yang pasti lagu-lagu tersebut, jenis musiknya ada klasik, dan countrynya. Lagu-lagu konyol juga aku senangi.

Untuk film, aku menyukai film-film sejenis action. Perang, detektif, pembunuhan. Film-film haror sejenis vampire, Dracula aku senang. Hanya saja tidak begitu wajib, mubahlah gitu.

WANITA

Bagiku siapapun dia, kalau dia masih normal (bukan banci, bencong, waria), pasti menyukai wanita. Daya tarik wanita memang luar biasa. Oleh karena itu Nabi SAW menjelaskan, “Wanita merupakan perhiasan dunia, baik wanita, baik pula dunia, rusak wanita, maka rusak pula dunia”. Nabi SAW juga mengatakan bahwa pria dilingkari oleh Tahta, Harta dan Wanita.

Aku menyukai seorang wanita yang tidak pulgar dalam pergaulan Tentang polygamy, aku menganggap itu suatu yang halal dilakukan. Sehingga aku tidak setuju yang mengatakan itu termasuk kerakusan seorang laki-laki. Bahwa lelaki adalah egois. Bahkan ada yang mengatakan itu hanya berlaku kepada Nabi SAW aja.

Tenggarong Kutai Kartanegara

Tenggarong Kutai Kartanegara

Tenggarong merupakan nama sebuah kota kecamatan yang menjadi ibu kota Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Wilayah Tenggarong yang terbagi dalam 13 kelurahan ini memiliki luas wilayah mencapai 398,10 km2 dengan jumlah penduduk sebanyak 72.458(BPS 2007).

Sejarah

Tenggarong juga merupakan ibu kota Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura. Kota ini didirikan pada tanggal 28 September 1782 oleh Raja Kutai Kartanegara ke-15, Aji Muhammad Muslihuddin, yang dikenal pula dengan nama Aji Imbut.

Semula kota ini bernama Tepian Pandan ketika Aji Imbut memindahkan ibukota kerajaan dari Pemarangan. Oleh Sultan Kutai, nama Tepian Pandan kemudian diubah menjadi Tangga Arung yang berarti rumah raja. Namun pada perkembangannya, Tangga Arung lebih populer dengan sebutan "Tenggarong" hingga saat ini.

Obyek wisata

Kelurahan di Kecamatan Tenggarong

Kecamatan Tenggarong terdiri dari 13 kelurahan, yakni:

  1. Kelurahan Baru
  2. Kelurahan Bukit Biru
  3. Kelurahan Jahab
  4. Kelurahan Loa Ipuh
  5. Kelurahan Loa Ipuh Darat
  6. Kelurahan Loa Tebu
  7. Kelurahan Maluhu
  8. Kelurahan Mangkurawang
  9. Kelurahan Melayu
  10. Kelurahan Panji
  11. Kelurahan Rapak Lambur
  12. Kelurahan Sukarame
  13. Kelurahan Timbau

KUTAI KARTANEGARA

KUTAI KARTANEGARA

Kabupaten Kutai Kartanegara merupakan kelanjutan dari Kabupaten Kutai sebelum terjadi pemekaran wilayah pada tahun 1999. Wilayah Kabupaten Kutai sendiri, termasuk Kota Balikpapan, Bontang, dan Samarinda, sebelumnya merupakan wilayah kekuasaan Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura.

Pada tahun 1947, Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura dengan status Daerah Swapraja Kutai masuk dalam Federasi Kalimantan Timur bersama 4 Kesultanan lainnya seperti Bulungan, Sambaliung, Gunung Tabur dan Pasir.

Daerah Swapraja Kutai diubah menjadi Daerah Istimewa Kutai yang merupakan daerah otonom/daerah istimewa setingkat kabupaten berdasarkan UU Darurat No. 3 Tahun 1953.

Pada tahun 1959, status Daerah Istimewa Kutai yang dipimpin Sultan A.M. Parikesit dihapus. Dan berdasarkan UU No. 27 Tahun 1959, daerah ini dibagi menjadi 3 Daerah Tingkat II, yakni:

  1. Kotamadya Balikpapan dengan ibukota Balikpapan
  2. Kotamadya Samarinda dengan ibukota Samarinda
  3. Kabupaten Kutai dengan ibukota Tenggarong

Dengan berakhirnya Daerah Istimewa Kutai, maka berakhir pula kekuasaan Sultan Kutai Kartanegara ing Martadipura. Dalam Sidang Khusus DPRD Daerah Istimewa Kutai pada tanggal 21 Januari 1960, Sultan Kutai Kartanegara A.M. Parikesit secara resmi menyerahkan kekuasaan kepada Aji Raden Padmo selaku Bupati Kutai, Kapten Soedjono selaku Walikota Samarinda dan A.R. Sayid Mohammad selaku Walikota Balikpapan.

Pada tahun 1999, wilayah Kabupaten Kutai dimekarkan menjadi 4 daerah otonom berdasarkan UU No. 47 Tahun 1999, yakni:

  1. Kabupaten Kutai dengan ibu kota Tenggarong
  2. Kabupaten Kutai Barat dengan ibu kota Sendawar
  3. Kabupaten Kutai Timur dengan ibu kota Sangatta
  4. Kota Bontang dengan ibu kota Bontang

Untuk membedakan Kabupaten Kutai sebagai daerah hasil pemekaran, nama kabupaten ini akhirnya diganti menjadi Kabupaten Kutai Kartanegara melalui Peraturan Pemerintah RI No. 8 Tahun 2002 tentang "Perubahan Nama Kabupaten Kutai Menjadi Kabupaten Kutai Kartanegara". Sebutan Kabupaten Kutai Kartanegara ini merupakan usulan dari Presiden RI Abdurrahman Wahid ketika membuka Munas I Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI) di Tenggarong pada tahun 2000.

Topografi

Topografi wilayah sebagian besar bergelombang dan berbukit dengan kelerengan landai sampai curam. Daerah dengan kemiringan datar sampai landai terdapat di beberapa bagian yaitu wilayah pantai dan daerah aliran sungai Mahakam. Pada wilayah pedalaman dan perbatasan pada umumnya merupakan kawasan pegunungan dengan ketinggian antara 500 hingga 2.000 m di atas permukaan laut.

Danau-danau yang berada di Kabupaten Kutai Kartanegara:

  1. Danau Semayang (13.000 Ha)
  2. Danau Melintang (11.000 Ha)
  3. Danau Ngayau (1.900 Ha)
  4. Danau Tempatung (1.300 Ha)
  5. Danau Mulupan (750 Ha)
  6. Danau Siran (750 Ha)
  7. Danau Perian (750 Ha)
  8. Danau Wis (750 Ha)
  9. Danau Karang (750 Ha)
  10. Danau Loa Kang (450 Ha)
  11. Danau Batu Bumbu (450 Ha)
  12. Danau Meranbi (350 Ha)
  13. Danau Puan Rabuk (350 Ha)
  14. Danau S'kajo (100 Ha)
  15. Danau Tanah Liat (45 Ha)
  16. Danau Man

Demografi

Jumlah penduduk Kabupaten Kutai Kartanegara berdasarkan P4B tahun 2005 tercatat mencapai 547.422 jiwa. Penduduk yang bermukim di wilayah Kutai Kartanegara terdiri dari penduduk asli seperti suku Kutai, suku Dayak Benuaq, suku Dayak Tunjung, suku Dayak Bahau, suku Dayak Modang, suku Dayak Kenyah, suku Dayak Punan dan suku Dayak Kayan). Sementara penduduk pendatang berasal dari suku Banjar, suku Jawa, suku Bugis, suku Mandar, suku Madura, suku Buton, suku Timor dan lain-lain.

Pola penyebaran penduduk sebagian besar mengikuti pola transportasi yang ada. Sungai Mahakam merupakan jalur arteri bagi transportasi lokal. Keadaan ini menyebabkan sebagian besar pemukiman penduduk terkonsentrasi di tepi Sungai Mahakam dan anak-anak sungainya. Daerah-daerah yang agak jauh dari tepi sungai dimana belum terdapat prasarana jalan darat relatif kurang terisi dengan pemukiman penduduk.

Sebagian besar penduduk Kutai Kartanegara tinggal di pedesaan yakni mencapai 75,7% dan 24,3% berada di daerah perkotaan. Sementara mata pencaharian penduduk sebagian besar di sektor pertanian 38,25%, industri/kerajinan 18,37%, perdagangan 10,59 % dan lain-lain 32,79%.

Sumber : Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas